Ditulis oleh Neraca Cinta M.Psi., Psikolog
Ikigai dari Jepang – Nah, kali ini Riliv akan membahas kebudayaan Jepang lebih jauh ditinjau dari cara hidup masyarakatnya, khususnya tujuan hidup. Apakah kalian pernah mendengar ikigai sebelumnya? Mengapa ikigai penting dalam filosofi hidup orang Jepang? Yuk, kita kupas bersama-sama!
Apakah Itu Ikigai dan Apa Manfaatnya?

Jika diterjemakan ke bahasa Indonesia, ikigai berarti ‘alasan untuk hidup’ atau purpose of life. Lalu, kenapa masyarakat Jepang punya konsep tentang tujuan hidup yang begitu kuat?
Coba pikirkan baik-baik. Ketika membicarakan tentang masyarakat Jepang, tentunya kalian ingat bahwa Jepang dikenal dengan penduduknya yang gila kerja dan belajar, bukan? Etos kerja pekerja Jepang pun tak diragukan lagi, dengan tingkat disiplin dan integritas yang tinggi. Misalnya, orang-orang yang bekerja melaju di Tokyo pada tengah malam masih aktif untuk mengantar pekerja-pekerja lembur sampai ke rumahnya. Sebuah kota yang tampaknya tak pernah tidur. Penasaran, nggak, sih, kenapa mereka serajin itu?
Penelitian terkini menemukan bahwa alasan bangsa Jepang bekerja keras ini ternyata dipengaruhi oleh ikigai yang dimiliki setiap orang. Ikigai juga dianggap sebagai semacam mantra yang sukses membuat masyarakat berumur panjang, tetap sehat dan gigih mencapai kesuksesan. Selain itu, orang-orang yang menganut filosofi ikigai di Jepang, terutama yang berusia lanjut, punya keinginan untuk menjalani hidup dan kesehatan mental yang lebih tinggi, sehingga risiko mereka mengidap depresi menjadi menurun.
Lalu, apa saja aspek yang menyusun ikigai? Dalam bukunya, Ken Mogi, Ph.D. menyampaikan bahwa ikigai terdiri atas 5 pilar utama, yaitu:
- Mengawali sesuatu dengan hal-hal kecil.
- Bebaskan diri.
- Keselarasan dan kesinambungan.
- Kebahagiaan dari hal-hal kecil.
- Hadir di tempat dan waktu sekarang.
Ken Mogi mengatakan bahwa kelima pilar tersebut akan saling mendukung satu sama lain, tidak memiliki urutan khusus, atau berhierarki. Misalnya, ketika kita mengawali sesuatu dengan hal-hal kecil, jangan lupa bahwa kita punya kebebasan untuk melakukan hal-hal yang kita suka. Di sisi lain, melakukan hal-hal yang kita suka jangan sampai mengganggu work-life balance kita. Yang menarik, kelima pilar itu menunjukkan bahwa dalam menjalankan ikigai, kita juga menjunjung prinsip mindfulness, yaitu memfokuskan diri pada masa kini, dan tidak terpaku dengan masa lalu ataupun masa depan.
Di samping itu, ketika kita menemukan kebahagiaan dari hal-hal kecil, kita termasuk sebagai pribadi yang bersyukur. Dalam penelitian Komase (2021), rasa syukur dapat mengurangi stres dan risiko depresi, karena orang-orang yang bersyukur akan memiliki mekanisme coping yang lebih sehat dari orang-orang yang kurang bersyukur dan mampu memandang segala situasi dalam hidup sebagai hal yang baik.
Ikigai dalam Kehidupan Sehari-hari
Nah, seakarang kita akan menyelami ikigai lebih lanjut dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita cek diagram di bawah, yang digambarkan oleh Andres Suzunaga. Meskipun sebetulnya diagram di bawah ini dianggap terlalu menyederhanakan ikigai, setidaknya kita punya gambaran mengenai konsepnya jika diselaraskan dengan pandangan modern yang disusun oleh Marc Winn.

Nah, gimana sih cara membaca diagram ini? Yuk kita pelajari!
Ikigai dalam What You Love
Pernah nggak sih kamu menyukai mengerjakan sesuatu atau bahkan sangat menikmatinya? Ketika kamu melakukan hal ini, kamu rela tidak dibayar dan waktu seringkali terasa terlalu cepat berlalu. Jika kamu menyukai sesutu dan ternyata itu adalah bakatmu, maka hal tersebut menjadi passion.
Jika kamu menyukai suatu hal dan hal tersebut adalah apa yang dibutuhkan oleh lingkungan sekitar, kamu akan merasakan kegembiraan yang penuh. Namun, kegembiraan tersebut tidak menghasilkan uang atau materi lainnya untukmu. Inilah yang dinamakan ikigai dalam hal-hal yang kamu sukai.
Ikigai dalam What You Are Good At
Mungkin kamu pernah mendapatkan penghargaa, seperti pengakuan keahlian terhadap bidang spesifik yang kamu tekuni. Contoh paling dekatnya seperti jurusan kuliah. Jika hal-hal yang kamu kuasai ini menjadi suatu hal yang karenanya membuat orang ingin menghargainya dengan uang, maka ini bisa menjadi salah satu tujuan hidupmu.
Ikigai dalam What The World Needs
Cobalah sesekali melihat tujuan hidup dari lingkungan sekitar sebagai fokusnya. Apa saja sih yang dibutuhkan di masyarakat ini? Apa aja sih yang harus diciptakan untuk membuat kehidupan di kota X lebih baik? Jika kamu belum menemukan apa yang dunia butuhkan, mungkin ada baiknya kamu melakukan refleksi diri, karena bisa jadi kamu harus meng-improve apa yang kamu punya dari dirimu untuk mengetahuinya. Bisa jadi yang dibutuhkan dunia adalah dirimu, kan?
Ikigai dalam What You Can Be Paid For
Kamu punya skill dan passion, lalu mungkinkah kamu mendapatkan uang dari situ? Jika apa yang bisa kamu hasilkan ini cocok dengan kebutuhan masyarakat sekitar dan kamu senang melakukannya, maka kamu akan merasakan rasa bersemangat dan kepuasan batin.
Lalu, apakah kamu harus mencapai keempat hal tersebut untuk menemukan ikigai? Jawabannya sama sekali tidak. Ikigai bukanlah soal mencapai sesuatu dalam hidup yang berwujud, namun memahami apa yang penting dari hidupmu, sehingga kamu bisa menemukan apa yang membuat kamu passionate. Maka dari itu, ikigai tidak berfokus pada uang, namun tentang sesuatu yang berharga melebihinya. Namun, jika hal tersebut bisa jadi cara mendapatkan cuan, kenapa enggak?

Itu tadi pembahasan tentang ikigai yang perlu kamu ketahui. Oya, ikigai kamu bisa berubah dari waktu ke waktu seiring pertambahan usia dan perkembanganmu. Ini hal yang wajar, kok. Jadi seandainya tujuan hidup yang sudah kamu temukan sejak awal berubah, jangan khawatir dan mengira dirimu tidak konsisten, ya! Setiap manusia punya prosesnya masing-masing. Kamu hanya perlu bersabar dengan dirimu sendiri.
Yuk, ketahui bersama tujuan hidupmu sambil mengisi Journal dari aplikasi Riliv! Di samping itu, kamu juga bisa konsultasi dengan psikolog untuk membantu kamu mengenal dirimu lebih jauh.
Referensi:
- Komase, Y., Watanabe, K., Hori, D., Nozawa, K., Hidaka, Y., Iida, M., Imamura, K., & Kawakami, N. (2021). Effects of gratitude intervention on mental health and well-being among workers: A systematic review. Journal of occupational health, 63(1), e12290. https://doi.org/10.1002/1348-9585.12290
- Mogi, K. (2017). The Book of Ikigai. Jakarta: Noura Publishing.
- Okuzono, S. S., Shiba, K., Kim, E. S., Shirai, K., Kondo, N., Fujiwara, T., Kondo, K., Lomas, T., Trudel-Fitzgerald, C., Kawachi, I., & VanderWeele, T. J. (2022). Ikigai and subsequent health and wellbeing among Japanese older adults: Longitudinal outcome-wide analysis. The Lancet regional health. Western Pacific, 21, 100391. https://doi.org/10.1016/j.lanwpc.2022.100391
- Tsuzishita, S., & Wakui, T. (2021). The Effect of High and Low Life Purpose on Ikigai (a Meaning for Life) among Community-Dwelling Older People-A Cross-Sectional Study. Geriatrics (Basel, Switzerland), 6(3), 73. https://doi.org/10.3390/geriatrics6030073